Yes, I Can

Memotivasi anak supaya dia bertindak serta memupuk prestasi dan keberhasilan adalah dengan memberikan dorongan positif dalam hidupnya. Manfaat yang lain lagi dalam meberikan pujian adalah membentuk pribadi yang selalu percaya diri dan optimis. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan pujian. Pujian yang tulus harus disertai rasa cinta, rasa hormat, dan penghargaan terhadap anak-anak.

“Wah… hari ini rapi sekali tulisanmu, Kia! Seperti yang Ibu katakan, engkau ternyata bisa kan, menulis lebih rapi lagi.” Pujian ini diberikan kepada salah satu siswa yang tulisannya sulit dibaca. “Ibu suka dengan percakapan yang baru saja diperagakan oleh Karina. Karina sudah mulai menunjukkan keberanian berbicara di depan kelas. Lain kali Karina pasti bisa lebih ekspresif lagi.” Kali ini, pujian terhadap siswa yang sangat pemalu diucapkan guru di depan kelas. Bayangkan, bagaimana perasaan setiap anak yang mendengarkan pujian dari guru tersebut. Mereka pasti berpikir: ”Ternyata, aku bisa menulis lebih baik lagi” atau “Ternyata, aku bisa berbicara di depan kelas tanpa malu-malu.”

Kita semua membutuhkan pengakuan, perhatian, dan yang lebih kita sukai: pujian yang tulus. Kita semua ingin dilibatkan dalam percakapan, kita ingin gagasan-gagasan kita didengar dan bahkan dikagumi. Setelah lebih dari empat tahun mengajar di sebuah sekolah dasar, saya banyak belajar bahwa pemberian pujian terhadap siswa terbukti membawa dampak yang sangat positif. Setiap orang memerlukan pujian. Dengan adanya pujian, orang yang mendengarnya akan jauh lebih terpacu untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi. Bandingkan dengan pemberian kritik-kritik tajam dan berbagai celaan, yang akan mengakibatkan seseorang menjadi down atau patah semangat.

Peneliti Mueller dan Dweck menemukan bahwa, selain tampak memiliki minat belajar yang lebih besar, anak-anak yang dipuji karena usaha mereka juga memperlihatkan kegigihan dan kenikmatan yang lebih tinggi, menganggap kurangnya usaha mereka sebagai penyebab kegagalan mereka (yang menurut mereka bisa mereka ubah), dan mencapai hasil yang tinggi dalam kegiatan berprestasi selanjutnya. Namun, pujian harus diarahkan pada bidang-bidang yang bisa dikendalikan oleh anak, antara lain usaha, sikap, komitmen, disiplin dan konsentrasi.

Bagi masyarakat Indonesia, memberikan pujian belumlah membudaya. Hal ini bisa jadi ada “ketakutan” orang yang mendapat pujian akan bersikap “salah”, misalnya menjadi GR (gede rasa) atau yang lebih parahnya adalah menjadi congkak atau besar kepala. Padahal hal ini belum tentu sepenuhnya benar. Jika kita menginginkan bertambah banyaknya jumlah orang-orang yang memiliki rasa percaya diri dan selalu optimis, maka hal itu dapat dimulai dari keluarga dan dunia pendidikan atau sekolah.

Harus diakui bahwa, selayaknyalah kita belajar dari bangsa barat yang memiliki budaya suka memberikan pujian. Lihat saja pembawa acara Oprah Winfrey dan Rachel Ray yang begitu mudahnya memberikan pujian dan dukungan kepada para bintang tamu yang diundang dalam acara mereka. Tentunya, pujian itu dikaitkan dengan bidang-bidang seperti yang telah disebutkan tadi misalnya karena usaha, sikap, dan komitmen mereka. Bandingkan dengan beberapa acara televisi di Indonesia yang menunjukkan betapa mudahnya mencela kekurangan orang lain untuk dijadikan bahan olok-olok supaya lucu.

Sebagai guru maupun orang tua yang mendidik generasi yang aktif dan selalu bertanya di jaman sekarang ini, kita harus belajar untuk memberikan pujian dengan tulus kepada anak-anak didik kita. Janganlah pelit untuk memberikan pujian kepada mereka. Mulailah memberikan pujian yang tulus untuk membentuk anak dengan kepribadian yang selalu percaya diri dan optimis. Satu lagi yang harus diingat, bahwa pujian yang tulus harus disertai rasa cinta, rasa hormat, dan penghargaan terhadap anak-anak. (Diyah Ariyani)

Referensi:

 

Biddulph, Steve; The Secret of Happy Children; PT Gramedia Pustakan Utama; Jakarta; 2004.

Taylor, Jim; Memberi Dorongan Positif Pada Anak Agar Anak Berhasil Dalam Hidup; PT Gramedia Pustakan Utama; Jakarta; 2004.