Teacher as a Mentor

“Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku, dan ketekunanku” (2 Timotius 3:10).

Ayat ini merupakan penggalan kecil dari surat Paulus kepada Timotius menjelang kematiannya. Surat ini ditulis oleh Paulus dari dalam penjara di kota Roma ketika ia menantikan waktu eksekusi hukuman mati yang dijatuhkan oleh Kaisar Roma kepada dirinya. Menarik untuk dipikirkan mengapa Paulus menulis surat menjelang akhir hidupnya kepada Timotius. Jika Timotius bukanlah orang yang spesial, tidak mungkin Paulus menulis surat kepada dirinya. Siapakah Timotius? Timotius adalah murid yang sangat dikasihi oleh Paulus. Perjumpaan mereka berdua terjadi di kota Listra saat Paulus melakukan pemberitaan Injil di kota tersebut. Paulus terkesan dengan kepribadian Timotius dan sejak saat itu Timotius berada dalam bimbingan Paulus.

Bagi Timotius, Paulus bukan hanya berperan sebagai guru, tetapi lebih lagi sebagai mentor. Paulus bukan hanya mengajar tetapi ia membagikan seluruh hidupnya kepada Timotius. Itu sebabnya Paulus berani mengatakan kepada Timotius, “Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku, dan ketekunanku.” Paulus tidak ingin Timotius hanya sekedar menjadi pemimpin secara identitas, tapi ia juga ingin Timotius menjadi pemimpin yang punya prinsip, pola dan perilaku pemimpin yang baik seperti yang ia miliki.

Berbicara tentang pemimpin, ada satu kata pepatah yang bagus yang saya anggap sebagai suatu kebenaran. Pepatah itu mengatakan, “Setiap pemimpin cenderung memimpin sebagaimana ia pernah dipimpin”. Sadar atau tidak sadar, cara kita sekarang dalam membimbing dan memimpin anak-anak sangat dipengaruhi oleh cara kita dulu dibimbing dan dipimpin oleh orang lain.

Begitu pentingnya faktor kepemimpinan tersebut sehingga kita perlu memperhatikan dengan seksama bagaimana kita memimpin anak didik kita. Jka kita memiliki prinsip, pola, dan perilaku pemimpin yang baik, maka kelak anak didik kita pun akan menjadi pemimpin yang baik pula. Tetapi sebaliknya jika prinsip, pola, dan perilaku memimpin kita tidak baik maka tidak heran jika di kemudian hari anak didik kita akan menjadi pemimpin yang tidak baik. Dalam hal ini kita bisa belajar dari Paulus tentang prinsip pemimpin sebagai mentor. Mentor memiliki arti kata “pembimbing” dan “penasihat yang dipercaya”. Sesuai arti katanya, sebagai seorang pemimpin kita juga dituntut untuk menjadi pembimbing dan penasihat yang baik bagi setiap anak didik kita.

1. Menjadikan panggilan Allah sebagai dasar dari tugas kepemimpinan kita

 

Paulus mengetahui dengan jelas bahwa Allah memanggil dirinya untuk menjadi seorang rasul dan hal itu diungkapkannya di awal setiap surat yang ia tuliskan. Meskipun begitu ia tidak hanya cukup mengetahui identitas panggilannya sebagai seorang rasul melainkan juga tahu tugas panggilannya untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa di luar Yahudi.

Sebagai seorang pemberita Injil, Paulus berpikir bagaimana caranya agar Injil Kristus sampai ke sebanyak mungkin tempat di dunia ini, didengar oleh sebanyak mungkin orang , dan dapat bertahan lama dari generasi ke generasi. Paulus menyadari bahwa tidak mungkin dia mewujudkan hal itu seorang diri. Itu sebabnya Paulus berupaya mencetak pemimpin-pemimpin Kristen yang kelak akan memuridkan dan mengutus pengikut-pengikut Kristus untuk mewartakan Injil ke seluruh penjuru bumi. Sebagai seorang rasul Kristus, Paulus  sadar bahwa tugasnya untuk melahirkan pemimpin-pemimpin Kristen merupakan bagian dari panggilan Allah atas hidupnya.

Saya percaya bahwa menjadi seorang guru merupakan panggilan Allah yang spesial bagi hidup kita secara pribadi. Mengapa spesial? Karena kita diizinkan untuk memiliki profesi yang sama dengan Yesus saat Ia berada di muka bumi ini. Karena panggilan itulah kita berada di ruang kelas untuk mengajar setiap anak didik kita masing-masing. Itu sebuah tugas yang mulia, tetapi tidak cukup hanya sampai di situ. Kita dipanggil oleh Allah bukan hanya untuk melakukan tugas mengajar tapi juga melahirkan pemimpin-pemimpin yang baru. Ketika Yesus berada di muka bumi, Dia tidak hanya mengajar murid-murid-Nya tapi juga mementor murid-murid-Nya dengan prinsip, keteladanan, kasih, iman, dan banyak hal lainnya. Yesus mengajar murid-murid-Nya bukan untuk menciptakan pengikut tapi menciptakan pemimpin.  Tidak heran ketika Yesus meninggalkan murid-murid-Nya, mereka mampu tampil menjadi pemimpin yang berhasil.

Sekolah Masa Depan Cerah memiliki visi “Making Agents of Change”. Kita rindu anak-anak yang kita didik menjadi agen-agen perubahan di lingkungan dan zaman mereka berada. Tetapi untuk menjadi agen-agen perubahan, mereka perlu memiliki prinsip, pola, dan perilaku layaknya seorang pemimpin dan  tugas untuk menjadikan mereka sebagai pemimpin yang berhasil salah satunya ada di pundak kita sebagai guru. Itu sebabnya ketika kita berada di hadapan anak didik kita, sesungguhnya tugas yang kita emban bukan hanya mengajar tapi juga mementor mereka, sebab bukan hanya  berbagai macam pengetahuan dan keahlian yang kita sampaikan, tapi juga keteladanan, prinsip hidup, iman, kasih dan seluruh bagian hidup kita yang dapat membuat mereka bertumbuh menjadi seorang pemimpin seperti yang Tuhan kehendaki. Jika kita menyadari betul hal ini tentu kita tidak akan sembrono dalam mendidik murid-murid kita karena itu akan berdampak besar dalam kehidupan mereka kelak. Ingat, seperti apa kita memimpin mereka saat ini seperti itu pulalah kelak mereka akan memimpin orang lain.

2. Mengenal orang yang dimentornya

Sebagai seorang pemimpin sekaligus mentor, Paulus mengenal secara mendalam kehidupan Timotius. Namun, hal itu tidak dicapai dalam waktu yang singkat. Pengenalan Paulus akan Timotius, orang yang dimentornya, dilandasi oleh relasi yang dia bangun sejak pertama kali bertemu Timotius di kota Listra. Semenjak bertemu dengan Paulus, Timotius mengikuti Paulus ke manapun Paulus pergi. Bahkan, Timotius rela mendekam bersama-sama Paulus di dalam penjara. Jika dihitung sejak pertama kali berjumpa dengan Timotius di kota Listra hingga masa pemenjaraannya di kota Roma, maka Paulus telah mengenal Timotius selama kurang lebih 20 tahun. Tidak heran jika Paulus mengerti seluk beluk kehidupan Timotius secara detil, mulai dari nama ibu dan neneknya, masa kecil Timotius, penyakit yang sering diderita, bahkan perangai Timotius pun Paulus tahu dengan jelas.

Waktu yang kita miliki untuk mementor anak didik kita mungkin tidak selama Paulus ketika mementor Timotius. Satu tahun ajaran bisa jadi merupakan waktu yang sangat singkat bagi kebersamaan kita dengan para murid, akan tetapi waktu tersebut dapat menjadi waktu yang berkualitas jika kita berkomitmen untuk membina hubungan guna mengenal kehidupan murid-murid kita dengan lebih baik. Ada banyak cara yang bisa kita gunakan untuk membina hubungan dengan murid-murid kita, entah itu lewat proses belajar mengajar di kelas, bermain bersama, life sharing, obrolan santai, chatting lewat facebook dan cara-cara kreatif lainnya. Namun intinya adalah apakah pada saat kita membina hubungan dengan murid-murid, kita betul-betul tertarik terhadap diri mereka?

Pada waktu kita menunjukkan sikap tertarik kepada murid-murid, saya percaya bahwa murid-murid kita akan merasa dihargai dan dianggap penting keberadaannya. Jika kondisi seperti itu bisa terjadi, maka akan lebih mudah bagi seorang murid untuk mau dipimpin atau dimentor oleh gurunya. Contoh, ketika kita sibuk mengerjakan tugas tiba-tiba ada seorang murid yang datang untuk bertanya atau menceritakan sesuatu kepada kita. Apakah kita akan menatap matanya, mendengarkan dengan penuh perhatian ataukah mata kita fokus pada pekerjaan sambil mendengarkan murid kita itu berkata-kata.   Bila kita memilih yang pertama, maka murid kita tersebut akan berpikir dan merasa, “Oh, ternyata guruku sangat perhatian. Lain kali aku mau cerita lagi kepada guruku ini.” Di dalam hatinya sudah tumbuh rasa percaya dan dihargai. Anak yang seperti ini cenderung lebih terbuka kepada kita sehingga kita mampu mengenal kepribadiannya dengan baik.

3. Memenuhi kebutuhan orang yang dimentornya

Ketika Paulus mengenal kehidupan Timotius lebih dalam, Paulus mengetahui bahwa Timotius kurang percaya diri saat menjadi pemimpin jemaat di kota Efesus. Pada waktu menjadi pemimpin jemaat, Timotius masih berusia antara 30-40 tahun. Menurut standar Yahudi , usia tersebut belumlah matang sebagai pemimpin. Hal itulah yang membuat Timotius merasa minder. Paulus melihat bahwa Timotius membutuhkan dukungan dan motivasi yang mampu memompa kepercayaan dirinya. Itu sebabnya Paulus menguatkan hati Timotius dengan kata-kata yang tertulis dalam 1 Tim. 4:12, “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” Dalam hal ini Paulus ingin menegaskan kepada Timotius bahwa usia bukanlah batasan bagi seseorang untuk memimpin, yang terpenting adalah ia bisa menjadikan hidupnya sendiri sebagai teladan yang baik bagi orang-orang percaya yang dipimpinnya.

Di sisi yang lain, Paulus juga melihat bahwa lingkungan di sekeliling Timotius mayoritas adalah penyembah berhala dan belum lagi ajaran-ajaran sesat yang berkembang pada waktu itu  sangat mengancam stabilitas gereja. Paulus melihat Timotius dan jemaat yang dipimpinnya sangat rentan terhadap ancaman ini. Oleh sebab itu, Paulus perlu menasehati Timotius untuk bersikap tegas dalam menghadapi pengajar-pengajar sesat berikut ajaran-ajaran mereka. Hal ini selalu disinggung oleh Paulus dalam kedua suratnya yang dikirimkan kepada Timotius. Masih banyak hal-hal lain yang Paulus lihat sebagai kebutuhan Timotius yang utama dan sebagai seorang mementor, Paulus memnuhi tanggung jawabnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Sebagai seorang guru sekaligus mentor sudah seharusnya kita melihat apa yang menjadi kebutuhan murid-murid kita. Lewat hubungan yang kita bangun, kita bisa mengenali hal tersebut. Memang pada waktu kita mengajar murid-murid kita di kelas, sesungguhnya kita sedang memenuhi kebutuhan mereka secara umum akan pengetahuan, wawasan, dan juga skill. Tapi, ada kebutuhan-kebutuhan lain secara khusus yang mereka butuhkan dan itu bersifat individu. Antara murid yang satu dengan murid yang lain bentuknya bisa berbeda-beda. Kebutuhan itu bisa berupa butuh perhatian karena di rumah ia tidak mendapat perhatian yang cukup dari orangtuanya, butuh didengarkan karena ada anak tersebut sedang memiliki masalah, butuh dimotivasi karena ia selalu gagal dalam pelajaran tertentu, butuh teman karena ia kurang bisa bergaul, butuh keteladanan untuk bisa memiliki karakter yang baik, butuh contoh iman yang nyata supaya mereka bisa melakukannya juga, dan masih banyak sederet kebutuhan-kebutuhan yang lain. Itulah kebutuhan para murid yang perlu kita penuhi sebagai seorang guru sekaligus mentor.

Dalam kenyataannya, hal ini memang tidak selalu mudah untuk dilakukan. Tapi jangan berputus asa dan menyerah. Teruslah berusaha untuk memenuhi apa yang menjadi kebutuhan anak didik kita. Tuhan pasti akan memberi kekuatan kepada kita. Dia akan menyertai dan memampukan kita untuk menjadi guru, pemimpin, sekaligus sebagai mentor yang baik bagi setiap anak didik kita. 1 Kor. 15:58 mengatakan, “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” Amin. (Joseph)