Posts

,

Olahan Nusantara Sebagai Wujud Cinta Budaya Bangsa

Sebagai agenda tahunan unggulan SMPKr Masa Depan Cerah, kegiatan Socio Cultural Study (SCS) menghasilkan berbagai keterampilan baru bagi siswa–siswi kelas 9. Salah satu keterampilan yang dapat dikuasai adalah mengolah daging dan ikan menjadi masakan olahan setempat. Makanan setempat ini mengarah pada makanan tradisional khas Yogyakarta, seperti: tengkleng, tongseng, mangut lele, ayam bacem, dll. Keterampilan ini kemudian menjadi penilaian utama dalam Project Of Entrepreneurship (POE).

            Dalam kegiatan POE terdapat 5 tahapan dalam Learning Cycle yang harus dikuasai, yaitu: Exploring, Planning, Doing, Communicating, dan Reflecting. Dalam tahapan Exploring, siswa  belajar proses pengolahan daging dan ikan dengan benar di Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata Ambarukmo (STIPRAM) dan di Desa Wisata Pentingsari, Yogyakarta. Tahapan berikutnya adalah tahapan Planning. Pada tahap ini siswa bersama kelompok merencanakan inovasi masakan mereka.

 

            Tahapan ketiga merupakan tahapan yang paling ditunggu para siswa, yaitu Doing. Setiap siswa diberi kesempatan untuk memasak sebanyak 3 kali dengan inovasi makanan yang mereka telah mereka tentukan. Pada tahap Doing ke 3, siswa mengolah masakan mereka lalu mempresentasikan di depan orangtua masing-masing sebagai tahapan Communicating. Pada kesempatan Communicating ini, setiap wali murid tidak hanya sekedar melihat anak mereka mempresentasikan konsep masakan saja, namun turut mencicipi hasil masakan siswa. Pada tahapan ini, setiap siswa menerima kritik dan saran dari orangtua mereka sebagai bahan dalam tahapan terakhir di POE, yaitu Reflecting.

            Kegiatan POE ini diharapkan mampu memotivasi siswa untuk menginovasi daging dan ikan menjadi hasil olahan setempat yang kaya akan gizi dan sehat tanpa menggunakan bahan kimia.