Pengomposan Ala SMP Kristen Masa Depan Cerah

Sedikitnya 35 orang siswa SMPK Masa Depan Cerah berdandan seperti ilmuwan sedang sibuk mengaduk-aduk sampah sisa makanan. Tidak ada rasa jijik yang tergambar dari raut muka calon ilmuwan cilik tersebut saat mengaduk sampah sisa makanan yang dihasilkan dari kantin sekolah. Aktivitas tersebut disajikan kepada Tunas Hijau saat menggelar pembinaan lingkungan Surabaya Eco School yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan PT. Pembangkitan Jawa- Bali (PJB) di sekolahnya, Kamis (03/10) sore.

Menurut Feni Windarsih, guru pembina lingkungan, aktivitas yang dilakukan siswanya tersebut merupakan aktivitas pengomposan. “Karena bangunan sekolah kami yang sudah paten, kemudian segala bentuk lingkungan juga sudah ada dalam kebijakan sekolah, maka potensi lingkungan yang kami kembangkan adalah program pengomposan,” ucap Feni Windarsih.

Dalam pembinaan lingkungan ini, calon ilmuwan cilik tersebut diajak untuk mengenal potensi terbesar yang dihasilkan di sekolah. “Sampah yang paling banyak dihasilkan adalah sampah organik sisa makanan,” ucap Yang Yang Hendro, siswa kelas 8. Pernyataan tersebut kemudian diklarifikasi oleh Feni Windarsih, bahwa sebenarnya sampah yang paling banyak adalah sampah botol plastik, namun karena sampah botol plastik tersebut sudah dikelola oleh cleaning service sekolah.

“Maka yang tersisa hanya sampah sisa makanan yang paling banyak ditemui di kantin setelah waktu istirahat selesai,” ujar Feni Windarsih. Permasalahan lingkungan ini membuat Tunas Hijau memperkenalkan materi pengomposan menggunakan beberapa sumber sampah. “Pengomposan itu terbuat dari sampah sisa makanan dan sampah daun kering,” ucap Anggriyan, aktivis Tunas Hijau.

Tanpa rasa jijik, dengan menggunakan pakaian praktek laboratorium, mereka memungut sampah dedaunan kering untuk dimasukkan ke dalam tong komposter. Menurut Christoper Bryan Hadi, salah seorang anggota sains dan kader lingkungan, antusiasme kader lingkungan sekolah yang berada di daerah Diamond Hill ini mengalahkan rasa jijik yang mereka rasakan.

“Demi pengetahuan baru, kami bisa mengalahkan rasa jijik kok, nanti kan juga cuci tangan setelah kegiatan. Saya baru tahu ternyata untuk membuat pupuk kompos, hanya dibutuhkan media pengomposannya baik itu tong maupun keranjang,” ujar Christoper Bryan, siswa kelas 8. Tidak hanya pengomposan dengan sampah daun saja, kader lingkungan ini tampak tanpa ragu-ragu memasukkan sampah sisa makanan yang dihasilkan kantin sekolah ke dalam tong komposter.

“Kalau menggunakan tong komposter untuk pengomposan sisa makanan, nanti pupuk kompos bentuknya cair,” terang Anggriyan, aktivis Tunas Hijau. Penjelasan tersebut semakin memompa semangat kader lingkungan yang tanpa rasa jijik mengaduk sisa makanan dan kompos starter menggunakan tangan. “ Meski baunya tidak enak tetapi kalau hasilnya bermanfaat bagi kami, apapun akan kami lakukan,” ujar Tania Candra, siswa kelas 8.

Sekolah yang berada di depan kediaman Konjen Amerika Serikat ini berencana untuk membuat lubang resapan biopori di lingkungan sekolah. “Kami tertarik untuk membuat lubang resapan biopori di sekolah, namun kami masih berunding dengan guru sarana prasarananya untuk mendapat persetujuan,” ucap Feni Windarsih. Tidak Hanya itu, tim guru di bidang lingkungan juga berencana untuk menggelar tanam pohon untuk mengisi lahan yang kosong. (ryan)

Sumber: http://surabayaecoschool.tunashijau.org/2013/10/pengomposan-ala-smpk-masa-depan-cerah/#more-4959