Mengajarkan Ketaatan Menurut Cara Tuhan

“Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari Tuhan yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.” (Maleakhi 4 : 5 – 6)

PELATIHAN NEGATIF YANG TIDAK DISADARI ORANG TUA

Ketika orang tua tidak melakukan apa-apa (membiarkan saja) saat seorang anak melakukan kesalahan, maka sesusungguhnya anak sedang dilatih untuk berpikir bahwa apa saja yang dilakukan anak adalah benar. Inilah yang disebut pelatihan negatif melalui membiarkan (negative training by default).

Berikut ini adalah pelatihan negatif yang sering dilakukan orang tua dan tanpa disadari sebenarnya sedang mendidik anak untuk tidak taat:

1. Melatih anak untuk taat setelah menyuruhnya beberapa kali.

  • Membiarkan anak menunda, tidak segera melakukan.
  • Anak berpikir dan menunggu adanya instruksi kedua, ketiga dst.
  • Anak sedang dilatih untuk tidak menghargai perkataan orang tua.

2. Melatih anak untuk taat apabila suara sudah ditinggikan.

  • Anak dilatih taat melalui intimidasi (suara keras) dan bukan karena hatinya menghormati orang tua.

3. Melatih anak untuk taat setelah menerima ancaman : “ Taat tidak ? Kalau tidak, …”

  • Anak dilatih bahwa perkataan orang tua tidak berarti.
  • Anak akhirnya taat karena takut ancaman bukan karena hatinya mau taat.

4. Melatih anak untuk selalu berdalih (bertanya) atas setiap instruksi yang diberikan.

  • Orang tua tidak harus menjelaskan alasan untuk setiap perintah yang diberikan kepada anak. Anak-anak harus belajar memercayai orang tua dengan  menaatinya walaupun tidak memahami maksud perintah tersebut hari ini.
  • Tuhan inginkan umat-Nya taat walaupun kita tidak mengerti maksud di balik perintah-Nya.
  • Apabila kita melatih anak untuk mengerti dahulu baru taat, kita sedang melatih mereka berada dalam prinsip hidup yang salah.
  • Pengertian dan penjelasan dapat diajarkan (dibahas) setelah anak menaati perintah yang diberikan.

5. Melatih anak untuk selalu memberikan alasan (membela diri) untuk kesalahannya.

  • Sifat dasar manusia lama, membenarkan diri dan menyalahkan orang lain. Anak-anak sangat pintar mencari alasan untuk membenarkan sikapnya.
  • Orang tua yang tidak mengerti bisa terkecoh sehingga anaknya yang bersalah bisa terluput untuk bertobat.

6. Menyogok dan bernegosiasi dengan anak untuk taat.

  • “Kalau kamu taat nanti kita pergi jalan-jalan…” adalah contoh sogokan yang sangat umum.
  • Taat yang ditunjukkannya hanya sementara, karena setelah itu orang tua harus menyogok lagi untuk ketaatan selanjutnya.
  • Cara ini menurunkan standar dan melatih anak untuk mempunyai mental yang dapat dibeli dan disogok.

CARA MEMBERI INSTRUKSI DENGAN BENAR

  1. Harapkan tanggapan segera (first time obedience = taat pada perintah pertama).
  2. Jangan memberikan perintah kalau Anda tidak sungguh-sungguh mengharapkan anak Anda untuk  menaati.
  3. Perlunya kontak mata dan tanggapan verbal (“Ya, mama”, atau “Ya, papa”)

BEBERAPA TIPS LAIN BAGI ORANG TUA

1. Pahami konsep kekuasaan

  • Atasan kita adalah orang yang bertanggung jawab atas diri kita. Seperti orang tua atas anaknya, guru atas muridnya, direktur atas karyawannya, pemerintah atas warga negaranya atau pelatih atas timnya. Ketaatan kepada atasan membawa perlindungan dengan berada di bawah kekuasaan dan wewenang orang tersebut.
  • Ketidaktaatan biasanya tercermin dari sikap “Saya tidak harus mengikuti perintah itu.” Atau “Bagaimana bisa dia memerintahkan hal seperti itu ?’
  • Ketaatan bukan hanya ditunjukkan dengan mengerjakan serangkaian tugas sulit. Mengerjakan tugas dengan keluhan merupakan cerminan ketidaktaatan, meskipun keluhan tersebut tidak diutarakan atau ditunjukkan. Ketaatan ditunjukkan dengan senang hati sewaktu mengerjakan tugas.

2. Pahami tugas seorang pemimpin (orang tua)

  • Seorang pemimpin (orang tua) bertanggung jawab atas setiap keputusan yang dibuat yang menyangkut hidup bawahannya (anak-anaknya). Oleh karena itu orang tua harus tepat dalam membuat keputusan.
  • Menjadi orang tua yang baik adalah menciptakan dan memelihara standar moral yang lebih tinggi untuk diikuti oleh anak-anaknya. Anak-anak mengharapkan orang tua mereka memberi contoh yang baik.
  • Sikap dan tingkah laku orang tua lebih berarti daripada sekadar kata-kata. Dengan menyatakan kekecewaan atau menggerutu, akan membawa pengaruh yang tidak baik pada anak-anak.

3. Perhatikan kata-kata kita

  • Sebagai orang tua, kata-kata kita membawa pengaruh yang sangat besar. anak-anak bergantung pada kita. Jika kita membuat sebuah janji untuk ditepati, jangan mengharapkan anak kita untuk mengikuti sebelum kita memenuhinya terlebih dahulu.
  • Jika kita tidak bisa memenuhinya, temui anak kita dan ceritakan masalahnya dan katakan bahwa Anda tidak dapat memenuhi janji Anda.
  • Tunjukkan ketaatan Anda dengan menjaga tindakan dan sikap sesuai dengan kata-kata Anda.

4. Apakah Anda sudah mempunyai hak untuk ditaati?

  • Ketaatan adalah karakter kunci dalam kepemimpinan.
  • Sebelum orang tua mengharapkan anak mematuhinya, ia harus terlebih dahulu mematuhi otoritasnya sendiri.
  • Jika orang lain mendengar keluhan Anda atas otoritas pemimpin Anda, mereka akan segera mengenali Anda sebagai orang yang tidak taat. Sehingga ketika Anda memberi perintah, mereka tidak akan menyukai dan menerimanya setengah hati atau bahkan menolaknya.
  • Cara yang paling efektif mengajarkan ketaatan adalah dengan menunjukkan ketaatan Anda. Dengan konsisten hidup dalam ketaatan, maka pada saat Anda menjadi pemimpin, anak Anda akan memberikan diri secara sukarela untuk dipimpin karena melihat kehidupan Anda yang taat. (Brenda)