,

Communicating: Social and Cultural Exposure Program 2017

SMA Kristen Masa Depan Cerah Surabaya, kembali menggelar sebuah acara Communicating  dari kegiatan Social and Cultural Exposure Program yang diselenggarakan di Desa Petung Ombo, Kediri pada tanggal 13-19 September 2017 yang lalu. Kegiatan hari Sabtu, 11 November 2017 pukul 08.00-12.00 WIB. Kegiatan Communicating ini diselenggarakan berkaitan dengan tahap Learning Cycles dalam tahap praktek Project Of Entrepreneurship  yang dilakukan oleh para siswa/siswi kelas 10 baik jurusan IPA maupun IPS.

Pada kesempatan kali ini, bentuk kegiatan communicating dikemas dalam sebuah kegiatan presentasi. Apa saja yang menjadi bahan presentasi para pesertanya, tidak lain adalah para siswa peserta kegiatan ini diwajibkan membuat Ethnografi yang sudah dipersiapkan selama 3 bulan yang diawali dari kegiatan exploring, planning, serta doing baik di sekolah maupun di Petung Ombo.

Persiapan pembuatan ethnografi kali ini, tergolong sangat sedikit sekali waktunya namun para siswa sangat berantusias sekali dalam mengerjakannya. Pada permulaan pembuatan ethnografi  ini, para siswa diminta untuk mengamati, mengumpulkan data serta menganalisa tentang beberapa aspek yang ada di Desa Petung Ombo. Diantara aspek Sejarah, Agama, Sosial Budaya, Ekonomi, Keanekaragaman Hayati, serta Teknologi.  Dari aspek-aspek tersebut, para siswa diminta untuk mengamati dan menganalisa fakta-fakta yang didapat pada proses exploring, planning serta doing dan dijadikan majalah ethnografi.

Proses penilaian  presentasi dalam communicating kali ini, SMA Kristen Masa Depan Cerah mengundang juri dari praktisi pendidikan, pendeta dan majelis dari GKJW, serta alumni SMA MDC dari berbagai angkatan.

 

Liputan : Tri Setyanto, S.Pd (PIC Comm Live In 2017)

Foto : Margareth Ayu Anggraeni, S.Sos., M.P

 

,

Photography Competition Live in Petung Ombo 2017

Pameran Fotografi kali ini diadakan di MDC Campus Citraland, pada hari Sabtu, 11 November 2017 pukul 10.00-12.00 dihadiri oleh seluruh siswa kelas 10 dan orang tua. Dengan diikuti oleh 9 kelompok live in yang mengikutsertakan 3 foto yang telah dipilih secara seksama untuk lomba fotografinya. Dalam pelaksanaannya, sebelum berangkat Live in para siswa dibekali beberapa teknik foto oleh guru pengajar yang juga berprofesi sebagai fotografer yaitu Mr. Fenansius Nahak.

Lomba yang diselenggarakan oleh SMA Kristen Masa Depan Cerah bekerjasama dengan Alfalink Study Overseas  ini mengusung tema Human Interest dan Kearifan Lokal di Desa Petung Ombo. “Lomba Fotografi kali akan memusatkan pencarian foto pada kegiatan live in di Petung Ombo sesuai dengan temanya Human Interest. Anak-anak diharapkan secara detail dan fokus mencari obyek foto yang menarik dan memiliki cita rasa yang mewakili budaya di desa tersebut,” ujar Mr. Ketut Sukadana, Panitia Lomba Fotografi tahun ini.

Merupakan sebuah kebanggaan bagi Samantha Olivia Grace siswi kelas X IPS 1 yang kali pertamanya meraih 1st Winner di lomba fotografi.  Dalam fotonya yang bertemakan Human Interest dan Kearifan Lokal di Desa Petung Ombo. Foto bergambarkan anak SD yang sedang belajar di kelasnya menjadi favorit para peserta pameran foto di MDC Campus. Demikian juga kebahagiaan juga terpancar dari raut wajah Kimmy Rayfonzo Lumintang siswa kelas X IPS 2 yang menyabet 1st Runner Up dengan foto siswi SD yang hendak melakukan smash saat bermain bola voli. Tidak lupa juga Graciella Aileen Nathaly siswi kelas X IPA 2 yang besukacita karena semula tidak menyangka mendapatkan 2nd Runner up. Fotonya menarik karena menceritakan sesuatu yang bersifat jurnalistik, foto warga yang sedang membangun rumah terlihat menceritakan kerjasama warga di foto tersebut. “Puas melihat hasil karya para siswa yang memfoto kali ini, mereka sangat antusias dalam hunting foto dan hasilnyapun Luar biasa!,” kata Mr. Francisco, Ma’am Lia Widya dan Ma’am Purwestri Sabatlila (pembimbing kelompok).

Maam Liem Sioe Ie, Kepala Sekolah mengaku sangat bangga dengan para peserta yang bisa membuktikan untuk terus berprestasi di bidang fotografi. Menurutnya anak-anak ini adalah anak yang memiliki keinginan dan motivasi yang tinggi untuk terus mencoba dan berlatih. Beliau menuturkan bahwa lomba ini adalah sesi akhir dari runtutan kegiatan live in yang sangat membutuhkan fokus, konsentrasi serta pemikiran yang luar biasa.

“Anak-anak MDC luar biasa, mereka merupakan generasi muda yang cukup kreatif dan bisa dilatih dan dikembangkan kemampuan fotografinya. Perlunya latihan mencari obyek foto yang bisa menceritakan kisah di foto tersebut dan belajar juga pada fotografer profesional yang ada di sekitarnya. Ada banyak foto bagus yang saya berikan penilaian, namun hanya dipilih 3 juara kali ini. Merekalah yang bersungguh-sungguh secara sabar dan detail dalam mengambil gambar fotonya sesuai temanya Human Interest. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih dan selamat bagi yang menjadi pemenang. Tetaplah berusaha untuk mengasah keahlian kalian dalam fotografi,” salah satu penuturan dari Bapak Anton Gautama selaku juri dari lomba fotografi.

Liputan : Tri Setyanto, S.Pd

Foto : Margareth Ayu Anggraeni, S.Sos., M.P

,

Parents Seminar “Memerangi Bullying di Kalangan Remaja”

Pada hari Sabtu, 14 Oktober 2017 diadakan Talkshow bagi para orang tua untuk memerangi bullying di kalangan remaja berlangsung di ruang kantin, MDC Campus Citraland pukul 08.00-10.00 WIB. Kegiatan ini dihadiri oleh lebih kurang 250 para orang tua dari SMP dan SMA Kristen Masa Depan Cerah Surabaya. Pembicara talkshow adalah Bapak Jony Eko Yulianto, S.Psi., M.A (dosen Fakultas Psikologi, Universitas Ciputra Surabaya).

Bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain dengan maksud membahayakan fisik maupun emosional seseorang. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Bapak Drs. Sinung Harjanto, S.Th. M.A dalam sambutannya menyampaikan bahwa perilaku bullying seakan dipandang sebelah mata oleh masyarakat sehingga masih sedikit yang menyadari bahaya bullying. Saat ini dibutuhkan kesadaran bagi semua pihak untuk mengetahui dan memahami perilaku bullying.

Diharapkan dari seminar ini dapat membuka komunikasi anak dan orang tua, guru dan siswa, serta orang tua dan guru untuk mengantisipasi perilaku bullying. Serta sebagai upaya antisipasi dini untuk meminimalisir tindakan bullying, khususnya di Sekolah Masa Depan Cerah Surabaya.

Tidak jarang banyak orang tua yang ingin mengutarakan pertanyaan dan komentar tentang bullying ini, namun oleh karena keterbatasan waktu tidak semua tersampaikan. Akan tetapi para orang tua tetap menyambut baik dan positif kegiatan ini, mengingat tindakan bullying dapat terjadi di sekitar mereka.

(Tri Setyanto, S.Pd – Guru BK SMA)

,

Workshop Gen Z di era Industri 4.0

Pada hari Senin, 16 Oktober 2017 di Ruang Media MDC Campus, Personal Development Program SMA Kristen Masa Depan Cerah Surabaya bekerja sama dengan Program Studi Teknik Industri Universitas Pelita Harapan Surabaya memberikan seminar mengenai gen Z di era Industri 4.0 bagi seluruh siswa kelas 11. Pembicara dalam kegiatan ini adalah Lusia Permata Sari Hartanti (dosen UPH Surabaya) dan Christofel Angelo (Chello). Chello sebagai salah satu alumni Teknik Industri yang sukses dalam bidang Branding Konsultan, membagikan pengetahuan 10 karakter penting yg diperlukan siswa dalam berkarir di masa mendatang. Dalam perjalanan karirnya, Chello telah berhasil membawa Brand Excelso Coffee Indonesia meraih penghargaan 1st Digital Brand Award Indonesia, 1st Indonesia’s choice award – coffee shop category dan 3rd most outstanding campaign & marketing strategy. Selain itu Chello juga memegang beberapa brand ternama lainnya seperti Graha Natura, The Rosebay, Spazio dan Spazio Tower yang merupakan project dari Intiland Surabaya.

            Dari kegiatan ini diharapkan para siswa memiliki pengetahuan yang tepat dalam hal menyikapi  generasi Z di era industri 4.0. Siswa diharapkan mampu untuk menyesuaikan diri dengan baik pada masa-masa penggunaan media elektronik ini, khususnya sosial media yang saat ini sedang berkembang. Bukan malah terpengaruh dalam hal-hal yang negatif, tetapi justru memanfaatkan perkembangan media elektronik ini dengan hal-hal yang berguna bagi masa depan mereka.

(Tri Setyanto, S.Pd – Fasilitator Pedevpro)

,

2nd Winner of BEST Challenge 2017 Prasetya Mulya University Jakarta

Preparation. After qualifying the regional selection, we were very pleased with the results. We then strive to do better in the main event, our spirit burn, wanting to do the best. After receiving the case study for the main event, we were quite shocked because it was not what we expected. It was quite difficult and confusing at first, but we tried to understand the problem. We started to gather together at the 19th of August in our leader’s house, Vanessa. At first, we tried to understand, what is the problem, what is the case study’s message. After trying to figure it out, we kind off got the point of the case study. By then, we tried to find solutions. We concluded that by using the 5W + 1H template, it will be easier for us to find the perfect solution for this problem. We want to find the perfect solution, so in the beginning, we just throw ideas and thoughts that we could think of and might fit the solution. Then, we picked one, and left the rest. We started researching for important datas, and statistics. We browsed the web throughly to find datas that can sync with our solution, for instance the percentage of people who do not have bank account, and many more. Suddenly, one of our team member, Gracia, suggested that we use a large paper to draw a mind map. We then stick 5 large papers on the wall, and start drawing mind map, write informations using the 5W + 1H. It turned out to be very helpful for our team. Day by day, we tried to perfect our idea, find flaws, add details, and many more. This continued from the first day we did our preparation, until the day before the flight. We worked full-day from morning to around 10PM in the night. It was quite a tiring experience, but worth the sweat. We are glad we did our preparation like so.
 

When we first got into this competiton we thought that this was gonna be a business plan and no add ons. So when we got to the next round and found out about the best race we thought that its not gonna be a big part in our score. We didnt really think about it until when he have to do it. Unlike usual rally games’s where we go from one post to the other post, in this race we were given a flashdisk that consist the next clue to the next place and in order to open that flashdick we need to go back to tha data base. So instead of going on the fastest route we have to go back to back to the data base. in that time we almost think that this is immposible. We already lack energy due to lack of sleep because our flight was so early which is a takeaways for us. At first our “guru pendamping” Mr. Tri already said that he will just stay and do not follow our journey because he does not want to be an extra baggage for us. But we insist that we really need him to help us pass this test. Long story short after all the running we have done we have reach the sixth post. Because theres is only six clue we think that that is the last post, but turn out its not so we run agian and finished the seventh post. When we finished we go back to the data base and saw that there were already three group before us, which means that we are in the fourth place. But apparently there have been a misunderstanding that the commitee didn’t write our group. When we clarify it the commitee said that we are in the first place beacuse they misunderstand our first encounter with them when we justify how many post there is. Yes we could just take the throne and become the first palce in the competition. But that is not the wright thing to to. We belive that God had made us go to Tangerang and we really put God in every aspect in this competition. So we told them the truth that we arrive in the fourth place. After all this is His making not us.
 

Thus, came the time for us to present the materials we’ve prepared a week before. The procedure of the competition forced us to use the slides that we have in a Power Point format. In which what we had was Keynote, so we drilled to work converting slides to videos to put into the Power Point, with the help of Jonathan Marco, of course. Basically, we came prepared for the worst. We gave the file to our Laison Officer and hoped for the best for thus converted file.
 

It came to our turn to present, in which we were very nervous. We prayed like any normal group of terrified kids would do. Together, we asked for God’s wisdom and guidance. We went into the presentation room, Vanessa’s heels clacking down the floor representing out repetitive heartbeat. Three judges sat before us, two were smiling, one was rather quiet. We eased our way towards the room computer, and clicked our file while crossing our fingers. Well, the file did opened. But when Gracia started her introduction, the animation wouldn’t move. This was the point where all three of our faces went white. We sort of resembled zombies.
 

Since the file crashed, the committe took the blame and we were allowed to use our own laptop without any points or time consumed. We proceed to present our ideas in which the judges surprisingly gave good feedbacks.
 

We then proceed to go back to the hotel and prepare for the Gala Dinner. Gala Dinner is basically where our parents, teachers and other contestants gather into one huge hall, where the awarding night would be held. Our parents came to support us, in which they looked pretty confident that we would win this. It’s obvious when they took out their phones at any given time of ANY awarding announcement. We were called into the hall one by one, and sat down with other contestants. We met alot of people there, and made new friends. We also had dinner together and sat down to discuss our university plans for the futuren.
 

Then, the moment came. The awarding ceremony. We were all excited for the announcement. Yes, we were anxious, but we didn’t feel like we failed. Because, we knew we did our very best, and it is up to God to do the rest.
 

They projected unto the screen a bunch of scores without the team names. It came to Gracia’s attention that our score seemed to be on the second position of the list. The drum roll began, our parents’ phones were up in the air. That was when our team name was called upon the stage. We were so grateful for the achievement that God had entrust to us. Also, towards the lessons along the journey that He provided for us. Therefore, we give back all this victory to Him only.
 

TBOX members : Gracia Tumakaka, Emanuella Vanessa, Roderrick Soetarso
Mentor : Tri Setyanto, S.Pd

 

 

International Exposure Program 2017

IEP (International Exposure Program)is a learning program held in Singapore for the 11th graders of MDC High School. Through this program, students are able to learn a lot, especially with regards to technology, transportation, economy, education, and environmental cleanliness.

Some places visited during the program include Newater, LTA, Gardens By The Bay, Singapore City Gallery, National Museum, Envision Gallery, Labrador Park, SIM GE and PSB campus. Through this program, it is expected that students will be able to analyze how the world has developed in all aspects and to apply the information they have gained in their daily lives.

LIVE IN PETUNG OMBO 2017

Live in adalah merupakan kegiatan pengembangan diri dari program yang ada di SMA   Kristen  Masa Depan Cerah yang diwarnai dengan kegiatan Entrepreneurship dan pengembagan diri.

Kegiatan Live In di Petung Ombo, Kediri ini diperuntukkan bagi siswa kelas X tahun pelajaran 2017/2018 dan dilaksanakan pada hari Rabu-Selasa, tanggal 13-19 September 2017. Kegiatan telah berjalan dengan baik dan lancar dan diikuti oleh seluruh siswa kelas 10 sejumlah 85 orang dan 13 guru pembimbing.

Untuk membentuk siswa menjadi pribadi yang utuh, maka pada jenjang akhir pendidikan sebelum memasuki perguruan tinggi, siswa tidak hanya diperlengkapi dengan kemampuan dalam bidang akademik, karakter, kehidupan rohani, kepemimpinan, dan pemahaman lingkungan saja. Pengalaman lapangan berupa program praktek di dalam masyarakat, agar siswa beroleh pengalaman hidup dalam masyarakat secara nyata dalam skala yang lebih kecil juga perlu diberikan.

Kegiatan ini merupakan salah satu program yang diadakan dengan tujuan untuk membuat siswa mengerti akan kondisi nyata masyarakat yang ada di pedesaan. Dengan melihat dan terlibat  secara langsung dalam kehidupan masyarakat yang ada di daerah terpencil, diharapkan siswa dapat berlatih meningkatkan daya juang dalam menghadapi kenyataan hidup, membangun empati dan tanggung jawab, keluar dari zona nyaman, sekaligus belajar menerapkan salah satu filosofi Gereja MDC yaitu servanthood.

Secara umum, tujuan diadakannya acara ini adalah untuk membentuk pribadi yang tangguh, bertanggung jawab, berempati, dan memiliki jiwa melayani dalam seluruh aspek kehidupan secara terus menerus.

Kegiatan Live In ini adalah salah satu syarat untuk mendasari para siswa khususnya kelas X sebelum mereka akan mengikuti kegiatan International Exposure Program kelas XI di Singapura. Dari kegiatan ini, para siswa kelas X akan mengetahui dan merasakan bagaimana perjuangan hidup masyarakat desa yang sebagian besar bekerja sebagai petani dan peternak.

 

Dalam pelaksanaannya berkaitan dengan kegiatan Entrepreneurship, siswa belajar dengan  pendekatan  siklus belajar (learning cycles), dimana siswa melakukan kegiatan exploring, planning, doing, communicating, dan reflecting. Proyek entrepreunership semester I ini dilaksanakan selama 7 hari, dengan tema “Culture and social exposure program” dengan menembus batas dan berbagi hidup. Sebelum berangkat ke Petung Ombo, Kediri siswa melakukan kegiatan exploring dan planning  tentang pelayanan yang akan mereka lakukan di sana dan merancang standart perilaku yang harus mereka taati. Kegiatan entrepreneur yang dilakukan diantaranya melakukan pengajaran secara langsung di SDN Sepawon 2. Dengan memberikan pengajaran bahasa Inggris dalam English Fun, kelas karakter dengan berbagai macam aktivitas dan pembelajaran matematika yang menyenangkan. Selain itu para siswa juga dilibatkan dalam pelayanan di ibadah pemuda di GKJW Pepanthan Petung Ombo. Setelah mereka pulang kembali ke sekolah, rencananya mereka melaksanakan proses communicating  dalam  bentuk SLC (Student-Led Conference) pada tanggal 10 November 2017 di sekolah dengan mengundang orang tua murid, dewan juri dari perwakilan Majelis GKJW kota Surabaya serta para alumni dari SMA MDC Surabaya.

     Dari beberapa hasil pengamatan pembimbing terhadap siswa, diketahui bahwa siswa mampu melakukan  kegiatan di rumah diantaranya menyapu halaman, mencuci piring, mencuci baju, memasak dan kegiatan di luar rumah diantaranya berkebun, berternak dan juga siswa mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan masyarakat sekitar di Petung Ombo, Kediri  dengan baik terutama dengan menggunakan bahasa jawa. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana cara mereka memberi salam kepada warga sekitar  dan juga ketika bersosialisasi kepada para remaja-pemuda di gereja maupun siswa SDN Sepawon 2 Petung Ombo, Kediri.

Respon warga desa Petung Ombo, Kediri pada saat itu sangat senang dengan keberadaan para siswa kelas X dari SMA Kristen Masa Depan Cerah. Mereka berharap di program live in berikutnya terdapat kemajuan dan sesuatu yang baru dalam pelayanan juga pengembangan pembelajaran yang dapat memberkati di desa masyarakat di desa Petung Ombo, Kediri. (Tri Setyanto, S.Pd)

,

Workshop Entrepreneurship of Creativity and Innovation

SMA Kristen Masa Depan Cerah bekerjasama dengan i3L Jakarta mengadakan pembelajaran bermakna berupa workshop bagi kelas 12. Kegiatan ini berupa Workshop Entrpreneurship of Creativity and Innovation pada hari Selasa, 8 Agustus 2017 jam 15.00-16.00 WIB di Ruang Media. Narasumber pada workshop kali ini adalah Mr. Rex Tanmizi, M.Acc salah satu pengajar di jurusan Bio-entrepreneurship i3L Jakarta.

Kegiatan workshop ini diantaranya, siswa diberikan materi mengenai cara-cara berpikir kreatif dan berinovasi secara sistematis dengan menggunakan morphological analisis. Menggunakan metode ini, siswa diajarkan untuk mengisi sebuah tabel yang dinamakan morphological box. setelah tabel ini diisi, analisa dimulai dengan memilih satu item di kolom pertama, lalu memilih satu atribut per kolom dari kolom-kolom selanjutnya. Analisa ini akan menghasilkan sebuah produk baru yang kreatif. Setelah itu siswa membuat sandwich mereka sesuai analisa yang telah dilakukan.

Dari kegiatan ini diharapkan siswa dapat mengembangkan cara berpikir kreatif mereka dan berinovasi dalam menciptakan sebuah produk yang baru. (Tri Setyanto, S.Pd – Fasilitator Pedevpro12)

,

Seminar Kebangsaan: Pemimpin Kristen yang Berbhinneka Tunggal Ika

Dengan mengambil tema “Membangun Kepemimpinan Kristen yang ber-Bhinneka Tunggal Ika“, Personal Development Program kelas 10 dan 11 kembali menyelenggarakan kegiatan seminar. Kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan pengembangan diri siswa dalam materi pengembangan diri yaitu kepemimpinan khususnya kepemimpinan Kristen yang diselenggarakan pada hari Selasa,  13 Juni 2017 bertempat di Ruang Media lantai 4, MDC Campus Citraland Surabaya.

Pembicara dalam seminar ini dihadirkan dari kalangan anggota wakil rakyat, Praktisi Pendidikan dan Fasilitator Komunitas Indonesia Moeda :

  1. Vinsesius Awey, Anggota Komisi C DPRD II Kota Surabaya
  2. Erlangga Dharma, Praktisi Pendidikan Kristen
  3. Jose Ferlianto, Fasilitator Indonesia Moeda

Sesuai dengan tema yang diusung, seminar kebangsaan ini memandang bahwa pemuda merupakan elemen penting milik bangsa sehingga kita semua merasa perlu mengupayakan untuk meningkatkan kesadaran para pemuda sebagai salah satu unsur penentu masa depan bangsa Indonesia. Melalui seminar ini, diharapkan dapat memperkokoh pengetahuan dan wawasan kebangsaan peserta seminar, serta meningkatkan pemahaman akan pentingnya memiliki rasa bangga dan cinta tanah air. Setelah mengikuti seminar ini, semua peserta yang sebanyak 300 peserta dari siswa-siswi dan guru SMA Masa Depan Cerah Surabaya ini diharapkan dapat menumbuhkan sikap dan jiwa rela berkorban dengan mengimplementasikan nilai-nilai empat pilar kebangsaan demi kepentingan dan kemajuan negara dan bangsa di kemudian hari.

“Alasan diadakan seminar ini adalah untuk membangkitkan jiwa nasionalisme para pemuda sekarang ini. karena, saya melihat di jaman sekarang kebanggaan akan Indonesia sudah berkurang. Melalui acara ini, kami ingin membangunkan kembali jiwa nasionalisme melalui seminar kebangsaan ini. Empat pilar kebangsaan yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bhineka Tunggal Ika, Pancasila, dan UUD 45 yang harus menjadi pegangan kuat untuk generasi bangsa,” ujar Dra. Liem Sioe Ie selaku Kepala Sekolah pada pemaparan sambutan saat membuka seminar.

“Menjadi orang Indonesia adalah sebuah pilihan. Ketika kita sudah memilih menjadi warga negara Indonesia. Kita juga harus menjadi warga negara Indonesia yang berkontribusi bagi pembangunan bangsa dan negara”, Kata Bapak Vinsensius Awey  beliau juga mengatakan bahwa “Perubahan zaman, globalisasi serta kemajuan ilmu dan teknologi secara langsung maupun tidak berdampak pada kehidupan masyarakat, pandangan hidup, perilaku serta cara seseorang menyikapi sesuatu. Beberapa kasus yang terjadi di Indonesia memperlihatkan bahwa nilai-nilai kebangsaan mulai terkikis, misalnya semakin maraknya praktik korupsi, lunturnya rasa saling menghormati dan teposeliro. Belum lagi kekerasan terjadi dimana-mana, konflik horizontal hingga pada menurunnya kebanggaan masyarakat dan generasi muda menggunakan produk-produk dalam negeri. Karena itu, wawasan kebangsaan serta nilai-nilai kearifan lokal sebagai suatu pandangan yang mencerminkan sikap dan kepribadian bangsa Indonesia, rasa cinta tanah air, menjunjung tinggi kesatuan dan persatuan perlu dikaji dan ditemukan kembali untuk meningkatkan daya saing dan karakter bangsa. Pancasila pada dasarnya merupakan salah satu wujud dari “kearifan lokal bangsa”. Ia merupakan representasi dari kebudayaan bangsa Indonesia yang tercipta seiring dengan kesadaran kebangsaan baru bernama Indonesia. Karena itu, Pancasila bukan menjadi milik Majapahit atau milik masa lalu yang nun jauh disana, melainkan menjadi wujud kultural dari pergerakan kebangsaan ketika berhadapan dengan kolonialisme di awal abad ke-20. “Karena itu selalu berpikir dan bertindak dalam kerangka keberagaman merupakan representasi dari kearifan lokal Indonesia”, paparnya.

Dalam kesempatan kali ini juga, Bapak Erlangga Dharma juga menyampaikan bagaimana menjadi seorang pemimpin kristiani. “Kepemimpinan Kristen adalah seseorang yang tidak memikirkan tentang bagaimana mendapatkan keuntungan untuk kelompok maupun dirinya tetapi memikirkan tentang orang lain. Menjadi pemimpin seperti Kristus yang datang untuk melayani dan bukan dilayani, Markus 10 : 45”. Musuh terbesar saat ini adalah ketidakpedulian. Temukan titik awal talenta dalam hidupmu yang mungkin tidak disadari namun itu yang akan membuat sebuah perubahan. Mulailah peduli dengan perkara kecil di dalam hidupmu. Make Your own history! Jangan pernah meremehkan sesuatu yang kecil sekalipun.

Bapak Jose Ferlianto juga menyampaikan tentang wawasan kebangsaan bagi para siswa-siswi yang hadir saat itu. Dimulai dari menjelaskan tentang Indonesia Moeda, sebuah komunitas anak muda yang memiliki visi mewujudkan generasi yang peduli akan bangsa dan mampu melakukan perubahan melalui hal-hal yang bisa dilakukan oleh generasi muda. Awal kemunculan tahun 2013, kerinduan untuk memulihkan bangsa Indonesia melalui pemuridan dan kegerakan anak muda dari berbagai aspek dan lintas suku. Prosentase umat Kristen di Indonesia sangat kecil, tapi kita tidak boleh merasa tidak mampu untuk membangun bangsa ini. Kita harus yakin dan percaya bahwa kita juga bisa berkontribusi dalam membangun negara Indonesia.  Kita bisa menjadi terang dan garam dunia, walaupun jumlah kita minoritas. Tetap berada di garis depan dalam menebarkan benih-benih kasih dan perdamaian bagi bangsa ini.

Bagaimana menyikapi kasus-kasus yang terjadi pada bangsa Indonesia,  radikalisme, rasialisme serta perpecahan bangsa adalah dengan merubah cara pandang kita terhadap keberagaman yang ada di Indonesia. Hendaknya kita mulai membangun jembatan hubungan dengan seluruh warga negara tanpa memandang SARA, hindari ketidakpedulian serta jangan meremehkan sebuah titik awal. Pancasila adalah sebuah mujizat bagi Indonesia yang sudah Tuhan berikan bagi negara Indonesia yang dicetuskan oleh para pemimpin bangsa pada masa lalu. Mulai berteman dengan seluruh lapisan masyarakat dari berbagai golongan, suku dan agama. Memulai dari apa yang kita bisa, dan dari apa yang kita punyai. Mari kita bawa Indonesia dalam setiap doa kita, doakan seluruh pemimpin baik dari lapisan terendah hingga pemimpin negara kita. Indonesia tetap jaya! Junjung terus Pancasila dan UUD 1945 sampai kapanpun. Kesimpulan seminar oleh pembawa acara Mr. Caesar Riza Rahardian, S.Hum

Pada akhir kesempatan, para siswa mengucapkan ikrar yang dipimpin oleh Mr. Petra Wahyu Utama, S.Hum (guru Sejarah) dan Winda Nathalie (Ketua OSIS masa bakti 2016/2017). Saya Indonesia, Saya Pancasila.

“Saya bersyukur mendapat kehormatan bisa membagikan wawasan kebangsaan kepada anak-anak SMA Kristen Masa Depan Cerah Surabaya. Saya diijinkan Tuhan melihat sebuah proses menabur benih impian, ide, gagasan tentang Kebangsaan kepada generasi muda yang akan menjadi tulang punggung bangsa Indonesia di tahun 2030. Benih yang awalnya kecilakan bertumbuh menjadi pohon besar yang menghasilkan banyak buah bagi kemaslahatan rakyat Indonesia. Apresiasi saya untuk kepala sekolah, jajaran staf dan guru yang memprakarsai acara ini. berbanggalah karena ini adalah sebuah perjalanan menapak masa depan yang lebih cerah. Saya Indonesia. Saya Pancasila. Tuhan memberkati” Salah satu komentar dari Bapak Jose Ferlianto selepas acara seminar kebangsaan ini. harapannya ke depan SMA Kristen Masa Depan Cerah akan terus melanjutkan kegiatan serupa yang dimaksudkan untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme putra-putri bangsa Indonesia. Mari bersama tetap memegang persatuan dan kesatuan bagi bangsa kita Indonesia. (Tri Setyanto, S.Pd – PIC Kegiatan)

“sekolah terbaik surabaya, sekolah kristen terbaik surabaya, sekolah surabaya, Sekolah MDC, MDC School, Sekolah berprestasi surabaya, sekolah surabaya barat, thanksgiving night, bhinneka tunggal ika, pancasila, SMA MDC, MDC Senior High”

,

1st Place of The World Scholar’s Cup 2017

“Sometimes, the very best things in life happen when we least expect them to.”

We were super intrigued by the fact that we got a chance to join this incredible first regional round of the WSC 2017 in Ciputra last week. (13-14/05/17). It was an overall non-stop heartwrenching journey for us, remembering that this was our first time in participating. We first got there knowing that we, who were only provided a maximum of 2 weeks time to prepare, were up against students who in reality appeared as if they were actually born to do this. To say that we were dreadfully nervous is a complete understatement, knowing that there was no turning back then.

The events were, as expected, prestigious to its very core. Almost everyone we see had these game faces on, and we were standing there being like, “Eeeep, please don’t eat us alive.” I gotta be honest, though. The tension was real. Especially when you were the only three remaining representatives in your school who was forced to “pwaa” (sound of an Alpaca) in a room filled with people whom you were not exactly familiar with.

But all in all, it was a sheer blessing for us, to have experienced such an event like this held upon our lovely city of Surabaya. Especially knowing that we managed to bring home a 1st place trophy in the Senior Division’s Debate Team category. Now that, was uncalled for. We felt like legit lollipops (a term they made for the losing team) back then after each debate match against the opposition team(s), but surprisingly ended up winning all three of them in the end.

Not to mention, us acquiring a number 6 champion team candidate who is practically qualified to enter the global rounds, in either Hanoi, Athens, or Cape Town, was another breathtaking blessing coming from the Almighty God Himself.

Words cannot simply describe how grateful I am, to have become part of a such an amazing team. Thank you as well to Mam Sioe Ie, Mr Khris, Mr Lee, and Mam Ella for your unconditional love and support. My family and best friends, who are always ready to back us up.

And of course, the one and only Jesus Christ. For You are the one who made all this possible, who is the eternal light in our darkness, and our very best friend.

This one’s for YOU. 🙂

By: Janice Karyadi (MDC Senior High Student – Grade XI)