Mengajarkan Anak Untuk Bijak Dalam Menggunakan Media Social

Beberapa tahun terakhir, pertumbuhan angka pengguna media sosial seperti facebook atau twitter meningkat dengan sangat pesat bak jamur di musim hujan. Pengguna aktif media sosial tersebut berasal bukan hanya dari kalangan orang dewasa melainkan juga anak-anak usia sekolah dasar dan remaja. Data yang dirilis di situs www.socialbakers.com menyebutkan bahwa pengguna facebook di Indonesia untuk rentang usia 13-15 tahun adalah 10% dari total jumlah pengguna facebook di Indonesia. Masih berkaitan dengan jumlah pengguna facebook, Charlene Chian, kepala komunikasi facebook untuk Asia-Pasifik mengatakan saat ini ada 64 juta pengguna aktif facebook di Indonesia. Jika merunut kepada data tersebut, diperkirakan ada 6,4 juta pengguna aktif facebook berusia remaja di Indonesia dan angka tersebut belum termasuk mereka yang berusia di bawah 13 tahun.

Banyaknya pengguna media sosial seperti facebook didorong oleh semakin mudahnya akses internet yang didapat oleh anak-anak. Terkait hal ini, Dirjen Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika (SDPP) Kemenkominfo Budi Setiawan mengatakan bahwa kebanyakan yang mengakses internet di Indonesia berusia antara 15-20 tahun. Selain itu usia 10-14 tahun adalah yang paling dominan. Di satu sisi, jejaring sosial menolong anak dan remaja dalam memperluas jaringan pertemanan atau sekedar mencari informasi. Namun, dampak negatif yang ditimbulkannya pun tidak kalah hebat. Dampak negatif dari jejaring sosial yang paling masif terjadi akhir-akhir ini adalah praktek bullying dan penipuan yang berujung pada kekerasan terhadap anak serta remaja. Kerugian yang dialami bukan sekedar trauma psikologis, namun dapat berimbas pada masa depan anak yang bersangkutan.

Upaya yang dilakukan untuk mencegah anak dan remaja mengakses jejaring sosial hampir mustahil dilakukan mengingat ada banyak perangkat yang bisa digunakan di samping kemudahan akses internet yang bisa didapatkan oleh mereka. Namun, setidaknya ada edukasi yang bisa diberikan kepada anak dan remaja ketika mereka mengakses jejaring sosial sehingga mereka bisa terhindar dari praktek bullying (baik sebagai pelaku maupun korban) dan penipuan dari orang yang tidak bertanggungjawab. Berikut adalah beberapa tips bagi orangtua untuk mengedukasi anaknya agar bisa menggunakan jejaring sosial dengan bijak:

1. Ingat “Golden Rule”

Saat menggunakan internet, ada orang-orang tertentu yang menyamarkan identitasnya untuk menyerang, memfitnah dan mendiskreditkan orang lain dengan alasan tidak menyukai orang tersebut atau hanya sekedar iseng. Saat menggunakan jejaring sosial atau blog, sangat mudah bagi kita untuk menemukan profil seseorang yang tidak kita kenal. Orangtua perlu mengajarkan kepada anak bahwa mereka harus menaruh rasa hormat kepada setiap orang, termasuk orang yang tidak dikenal, yang mereka jumpai lewat internet dan jejaring sosial. Itulah yang dimaksud dengan Golden Rule, yang juga berlaku di dunia nyata dimana kita harus memperlakukan orang lain sebagaimana kita juga ingin diperlakukan oleh orang tersebut.
2. Jangan menyebarkan gosip

Ajarkan kepada anak untuk mampu membedakan informasi yang benar dan yang salah sebelum mereka memposting suatu berita atau informasi di jejaring sosial. Kemampuan tersebut akan mencegah beredarnya gosip atau informasi yang tidak benar yang bisa menghancurkan reputasi seseorang dan merugikan pihak-pihak tertentu. Hal ini dikarenakan berita yang diposting di jejaring sosial akan cepat menyebar ke banyak orang dalam hitungan detik. Dengan memeriksa kebenaran informasi sebelum mempostingnya, anak-anak belajar untuk menjadi pengguna jejaring sosial yang bertanggungjawab.

3. Menjaga informasi yang sifatnya rahasia

Beberapa perusahaan memfokuskan bisnisnya pada usaha untuk mengumpulkan informasi pribadi dari pengguna jejaring sosial dan kemudian menjualnya kepada para pemasar. Kemungkinan terburuknya adalah informasi tersebut jatuh ke tangan orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan berniat mengambil keuntungan dengan cara yang tidak benar. Orangtua perlu mengingatkan anak-anaknya untuk tidak membagikan informasi pribadi yang sensitif untuk diketahui publik. Anak-anak perlu tahu bahwa informasi pribadi yang mereka share secara online di jejaring sosial tidak hanya berdampak bagi diri sendiri tapi juga keluarga mereka.

4. Melawan praktek cyberbullying

Cyberbullying atau praktek bullying yang terjadi di dunia maya, khususnya jejaring sosial, menjadi salah satu problem paling serius bagi anak dan remaja yang sering online di internet. Anak-anak dan remaja paling rentan untuk disakiti, ditipu serta dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggungjawab apalagi jika tidak ada kontrol atas aktivitas online mereka di jejaring sosial. Ajarkan kepada anak-anak jika suatu kali mereka mendapati praktek cyberbullying baik terhadap diri mereka atau seseorang yang mereka kenal, maka mereka harus segera melapor kepada orangtua atau otoritas dari orang yang bersangkutan. Dengan demikian, dapat diambil tindakan secepatnya untuk memutus praktek cyberbullying tersebut.
5. Berpikir tentang masa depan

Pengguna jejaring sosial yang baik akan berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu. Berbagai macam hal atau informasi yang telah dibagikan oleh anak dan remaja di jejaring sosial sama seperti tattoo digital yang akan tetap terlihat untuk selamanya. Jika orangtua mengajarkan kepada anaknya tentang memandang masa depan, termasuk memikirkan bagaimana orang-orang yang dikenal melihat reputasi hidupnya, tentu mereka akan memutuskan dengan bijak hal-hal apa saja yang akan mereka bagikan di jejaring sosial. Tolonglah anak untuk menjadi pengguna jejaring sosial yang bijaksana.

Joseph Heryawan, S.Th., M.M., Vice Principal of MDC Christian Elementary School

Meningkatkan Kecerdasan Spasial Anak

Kecerdasan Spasial adalah kemampuan untuk berpikir dalam gambar serta mengubah, dan menciptakan kembali berbagai macam aspek dunia visual-spasial. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan yang dimiliki oleh para arsitek, fotografer, artis, pilot, dan insinyur mesin. Siapa pun yang merancang piramida di Mesir, pasti mempunyai kecerdasan ini. Demikian pula dengan tokoh-tokoh seperti Thomas Alfa Edison, Pablo Picasso, dan Ansel Adams. Orang dengan tingkat kecerdasan spasial yang tinggi hampir selalu mempunyai kepekaan yang tajam terhadap detil visual dan dapat menggambarkan sesuatu dengan begitu hidup, melukis atau membuat sketsa ide secara jelas, serta dengan mudah menyesuaikan orientasi dalam ruang tiga dimensi.

Kecerdasan spasial mulai berkembang pada tahap awal kehidupan seorang anak dan orangtua memegang tanggung jawab utama untuk mematangkannya dalam diri anak. Sebuah studi menyatakan bahwa orangtua dapat menggunakan cara-cara yang sederhana untuk tujuan tersebut. Berikut beberapa cara yang bisa digunakan orangtua untuk mematangkan kecerdasan spasial anak-anaknya:

1. Mulai dengan kosa kata

Satu kali anak mulai belajar kosa kata, gunakan hal tersebut untuk merangsang kecerdasan spasialnya. Dalam hal ini, menggunakan kata-kata yang tepat sangatlah penting. Usahakan menggunakan kata-kata seperti “bulat”, “kotak”, “sudut”, “kiri”, “lurus”, “bawah”, “atas”, “besar” dan lain sebagainya. Orangtua juga dapat menggunakan gerakan tangan sambil mengucapkan kata-kata tersebut. Sebagai contoh, bentuklah lingkaran menggunakan tangan sementara orangtua menjelaskan tentang “lingkaran”. Cara yang lain adalah menggambar lingkaran di atas kertas atau menunjukkan sebuah benda yang berbentuk lingkaran kepada anak.

2. Manfaatkan kesempatan sehari-hari

Tantangan-tantangan dan tugas yang menuntut kecerdasan spasial selalu ada di sekeliling kita. Tanyakan kepada anak tentang apapun yang mereka biasa amati dan alami dalam kehidupan sehari-hari. Contoh pertanyaan yang bisa ditanyakan kepada anak:

1. Apakah tali sepatu yang sebelah kiri berada di atas atau di bawah tali sepatu yang di sebelah kanan?

2. Bentuk apa yang terlihat jika sebuah donat dipotong?

3. Bagaimana memasang seprai di atas tempat tidur dengan benar?

4. Apakah semua bolpen yang ada bisa tersimpan dengan pas di dalam tempat pensil?

5. Seberapa jauh toples kue itu dari jangkauan tanganmu?

3. Mendorong Visualisasi

Banyak anak memiliki masalah dengan studinya karena mereka tidak dapat memvisualisasikan materi pelajaran dalam benaknya, biasanya berkaitan dengan konsep materi yang sulit untuk dimengerti. Sebagai contoh adalah materi dalam pelajaran fisika tentang gerak benda. Sebuah bola yang jatuh menggelinding dalam lintasan yang berkelok-kelok akan bergerak mengikuti bentuk lintasannya tersebut. Orangtua dapat meminta siswa untuk memvisualisasikan gerak benda tersebut lewat gerakan. Aktivitas tersebut akan menolong anak dengan contoh praktis yang akan menjadi kebiasaan mereka dalam memecahkan berbagai persoalan.

4. Mencoba Beberapa Aktivitas

Memahami kecerdasan spasial adalah satu hal, tetapi mempraktekkannya adalah sesuatu yang berbeda pula. Jika orangtua tidak memotivasi anak-anak untuk mempraktekkannya, semua usaha yang telah dilakukan akan menjadi sia-sia. Biarkan anak untuk berpartisipasi dalam aktivitas orangtua seperti memasak, kegiatan fotografi, atau melukis di atas kanvas. Bahkan menurut sebuah studi, musik pun dapat mengembangkan kemampuan spasial anak. Hal tersebut biasanya dinamai Efek Mozart. Segala aktivitas yang orangtua yakini efektif, seharusnya diimpelementasikan dalam kehidupan anak.

5. Permainan Juga Dapat Menolong

Permainan blok atau puzzle adalah contoh instrumen dalam pengembangan kecerdasan spasial anak. Itu sebabnya permainan seperti kubus rubik, blok, puzzle, lego, dan lain sebagainya dapat menjadi pilihan hadiah ulang tahun yang baik untuk mengembangkan kemampuan spasial anak.

6. Membaca Sebuah Peta

Orangtua dapat mengajak anak-anaknya pada hari libur untuk melakukan perjalanan yang bernuansa petualangan. Bersama anaknya, orangtua berusaha mencapai suatu lokasi dengan menggunakan sebuah peta atau kompas. Mengajarkan kepada anak bagaimana membaca peta adalah salah satu cara terbaik merangsang anak untuk menggunakan kemampuan spasialnya.

Jangan lupa untuk memberikan pujian kepada anak setelah mereka menggunakan kecerdasan spasialnya. Tetapi kata-kata pujian tersebut haruslah bersifat spesifik. Jangan sekedar mengatakan kepada anak, “Kamu bagus dalam bermain balok”. Sebagai gantinya, katakan kepada anak, “Kamu berhasil membuat sebuah rumah yang bagus dengan menggunakan balok-balok itu.”

Joseph Heryawan, S.Th., M.M., Vice Principal of MDC Christian Elementary School

Menumbuhkan Kreativitas Dalam Diri Anak

Banyak orang berpikir bahwa kreativitas merupakan talenta yang dibawa oleh seorang anak sejak lahir, bisa “dimiliki” atau “tidak dimiliki” oleh anak yang bersangkutan. Pada kenyataannya, kreativitas lebih merupakan bentuk kemampuan dan bukan talenta yang dibawa sejak lahir. Oleh karenanya, butuh keahlian dari orangtua juga untuk mengembangkan kreativitas dalam diri anak.

Boleh dikatakan bahwa kreativitas merupakan salah satu kunci penting bagi kesuksesan dalam hidup seseorang. Namun, kreativitas tidak hanya terbatas dalam lingkup ekspresi artistik atau musik, tapi juga menyangkut bidang lain seperti matematika, sains, sosial, maupun kecerdasan emosi. Orang yang kreatif dapat lebih fleksibel dan memiliki jalan pemecahan masalah yang lebih baik sehingga mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman yang dipenuhi oleh berbagai macam perubahan.

Berikut ini beberapa tips untuk menumbuhkan kreativitas dalam diri anak:
1. Sediakan sumber daya yang dibutuhkan untuk ekspresi kreativitas anak.

Sumber daya kunci di sini adalah waktu. Anak-anak memerlukan waktu untuk permainan yang imaginatif, mengungkapkan ide secara spontan dan aktivitas-aktivitas lain yang bebas dari campur tangan orang dewasa serta tidak tergantung dari peralatan komersil.

Selain waktu, ruang juga merupakan sumber daya yang cukup penting. Jika orangtua tidak ingin anak mengotori interior rumah, maka sediakanlah satu ruang atau area yang membuat anak bisa mengekspresikan dirinya tanpa harus takut kotor atau berantakan. Area tersbeut bisa bagian pojok garasi untuk kegiatan melukis, sudut ruang keluarga untuk bermian lego, atau bahkan kamar tidur untuk bermain kostum.

2. Ciptakan atmosfer kreativitas di dalam rumah.

Orangtua harus terus-menerus menggali ide-ide kreatif dari dalam benak siswa. Namun, batasi keinginan untuk mengevaluasi ide-ide anak. Sebagai contoh, pada saat makan malam orangtua bisa bertanya kepada anak tentang kegiatan apa yang akan dilakukan bersama di akhir pekan, sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Jangan pernah mengomentari ide-ide yang kelihatannya tidak mungkin dan tidak perlu memutuskan ide siapa yang terbaik.

3. Berikan kebebasan pada anak untuk mengeksplorasi ide dan melakukan apa yang mereka inginkan.

Kecenderungan orangtua untuk mengoreksi ide tanpa disadari telah memasung anak untuk berpikir secara kreatif. Perasaan malu dan takut salah akan membuat anak tidak berani untuk mengungkapkan ide dan melakukan apa yang mereka inginkan. Sebaliknya, kebebasan yang diberikan akan membuat anak berani untuk mengembangkan gagasan serta mewujudkannya tanpa takut salah atau mendapat penolakan. Meskipun demikian, orangtua tetap perlu mengawal kebebasan itu di dalam koridor norma dan etika yang berlaku.

4. Dorong anak untuk senang membaca dan berpartisipasi dalam kegiatan seni.

Orangtua perlu membatasi waktu anak untuk menonton televisi dan mengakses media digital lainnya. Hal ini perlu untuk memberi ruang bagi kreativitas anak seperti berlatih sebuah permainan, menggambar, ataupun membaca buku favorit mereka.

5. Berikan anak-anak kesempatan untuk mengekpresikan “pemikiran yang berbeda”.

Berbeda pendapat adalah sesuatu yang positif karena dari hal tersebut dapat muncul solusi yang kreatif dan inovaif bagi suatu masalah yang dihadapi. Itu sebabnya, tidak perlu orangtua menjadi gusar jika suatu kali mendapati anak berbeda pendapat saat membicarakan sesuatu. Doronglah anak untuk menemukan lebih dari satu jalan untuk sebuah solusi, dan lebih dari satu solusi untuk sebuah masalah. Ketika mereka berhasil menyelesaikan suatu masalah, minta mereka untuk menyelesaikan masalah yang sama tapi dengan sebuah cara yang baru untuk melakukannya (solusi yang sama, jalan yang berbeda). Kemudian minta mereka untuk menemukan lebih banyak solusi untuk masalah yang sama.

6. Berhentilah untuk fokus pada apa yang anak dapat capai, sebaliknya berfokuslah pada proses dan bukan hasil akhirnya.

Salah satu cara dimana orangtua bisa melakukan hal ini adalah dengan mengajukan pertanyaan kepada anak mengenai proses kreativitas yang dilaluinya – Apakah kamu senang melakukan aktivitas tersebut? Apakah kamu bisa menyelesaikan apa yang kamu lakukan hingga tuntas? Apa yang kamu suka dari aktivitas tersebut?

Joseph Heryawan, S.Th., M.M., Vice Principal of MDC Christian Elementary School

Berbeda Itu Indah

Apa jadinya kalau alam bumi kita memiliki warna yang sama? Apakah bumi kita terlihat indah? Andai lukisan berwarna biru semua, apakah akan terlihat keindahannya? Tentu semua akan membosankan dan tidak terlihat keindahannya.

Sebaliknya, apabila kita menyaksikan hamparan gunung yang berwarna hijau, langit yang berwarna biru, pelangi yang berwarna-warni, dan bunga-bunga beraneka warna, tentu kita akan menemukan keindahan. Begitu juga goresan lukisan dan perwarnaan yang berbeda tentu akan membuat lukisan indah dipandang.

Begitu juga hidup ini, banyak perbedaan yang kita jumpai di sekeliling kita. Perbedaan latar belakang, watak, kepribadian, status sosial, dan sebagainya. Sehari-hari kita berjumpa dan berinteraksi dengan orang yang berbeda. Dalam menjalani hidup, kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Kenyataan hidup tidak selalu sama dengan apa yang kita harapkan. Berbagai konflik dalam kehidupan akan terjadi ketika kita tidak bisa melihat perbedaan yang ada. Tuhan menciptakan begitu banyak perbedaan dalam kehidupan kita, yang tidak perlu kita perdebatkan dan mencari siapa yang lebih baik, karena semua diciptakan secara unik.

Karena itu, dalam I Korintus 12:14—27 menyatakan bagaimana sesungguhnya keberadaan dari perbedaan-perbedaan itu yang harus dipahami dan disyukuri. Setiap anggota tubuh memiliki tempat dan fungsi berbeda. Tidaklah bisa apabila semua ingin menjadi tangan, atau karena terlihat penting semua ingin menjadi mata. Tuhan menciptakan anggota tubuh dengan fungsi yang berbeda. Apabila anggota tubuh saling berkoordinasi dan bersinergi sesuai fungsinya, maka tidak akan ada gangguan di dalam sistem tubuh. Demikian dengan hidup kita, jadikan Kristus yang utama sebab tidak ada manusia yang merupakan tubuh Kristus yang utuh dan sempurna, sebab hanya Kristus yang utuh dan manusia hanya anggota-anggota tubuh-Nya. Maka tidak ada kata-kata yang menyatakan “Karena aku atau karena si dia, namun hanya oleh Allah dan Kasih Karunia-Nya”.

Mari kita muliakan Tuhan Allah melalui peran dan fungsi kita masing-masing sebagai satu kesatuan yang utuh sebagai anggota tubuh Kristus. Manusia tidak ada yang super power atau super bisa, manusia juga tidak super lemah atau super tidak berkemampuan. Manusia itu lengkap dengan kemampuan-kemampuannya dan lengkap dengan kelemahan-kelemahannya. Jadi, kita tidak perlu menyombongkan diri dan menganggap yang lain lebih lemah, dan janganlah kita merendahkan diri dan mengnggap orang lain lebih hebat. Mari kita memiliki cara pandang dan sikap yang positif terhadap perbedaan yang ada. Kesatuan bukanlah keseragaman, tetapi keberagaman. Apabila kita bisa menghargai perbedaan, maka perbedaan itu akan terlihat indah. (Lany Gunawan)

PERBEDAAN DICIPTAKAN untuk MENGHADIRKAN KEINDAHAN.

“Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk SALING MEMBANGUN.” (Roma 14:19)

By: Lany Gunawan, S.T. (Kepala SD Kristen Masa Depan Cerah)

Kurikulum Khas Sekolah MDC

Banyak orang yang memiliki kecerdasan secara akademik namun, tidak memiliki kecerdasan dalam karakter. Banyak orang cerdas secara pikiran, namun hatinya tidak cerdas. Akibatnya muncul penipuan, korupsi, anarki, dan perilaku lain yang tidak baik. Tentunya hal tersebut tidak baik bagi anak-anak, karena akan menjadi contoh buruk yang meracuni pikiran dan sikap anak-anak kita. Jika hal tersebut berlangsung secara terus-menerus, bagaimana masa depan anak-anak kita?

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Unesco menemukan bahwa, kemakmuran suatu negara bukan disebabkan karena negara itu kaya sumber daya alam atau karena warga negaranya cerdas secara akademik, melainkan karena kecerdasan perilaku (attitude) warga negaranya.

Perilaku warga negara yang menentukan kemakmuran sebuah negara adalah perilaku yang menjujung tinggi prinsip-prinsip dasar yaitu memegang teguh etika, bersikap jujur dan berintegritas, bertanggung jawab, hormat pada aturan/hukum, hormat pada hak orang lain/warga lain, mencintai pekerjaannya, menabung dan berinvestasi, mau bekerja keras, serta tepat waktu. Ciri-ciri ini bukanlah merupakan kecerdasan akademik, namun merupakan kecerdasan emosional atau karakter. Karakter atau attitude yang baik membuat seseorang bahkan suatu negara menjadi makmur. Attitude yang buruk membuatnya miskin.

Setiap manusia memiliki sembilan tipe kecerdasan (multiple intelligences) yaitu kecerdasan logis-matematis, linguistik, kinestetik, musik, visual-spasial, interpersonal, intrapersonal, natural, dan eksistensial. Dari kesembilan kecerdasan itu kita biasanya mengutamakan kecerdasan akademik yaitu logika-matematika, sedangkan kecerdasan emosional dan yang lainnya diabaikan. Akibatnya, anak-anak mungkin akan tumbuh menjadi anak pintar, namun tidak berkarakter mulia. Sebagai orangtua, tentu kita tidak menginginkan memiliki anak cerdas namun egois, tidak menghormati orangtua, pemberontak, tidak inisiatif, mudah putus asa, dan perilaku tidak baik lainnya.

Kecerdasan emosional atau karakter mamberikan sumbangan paling banyak dibanding akademik di masa mendatang. Jadi, pendidikan karakter bagi anak itu merupakan hal yang sangat penting. Begitu pentingnya sampai pemerintah Indonesia memikirkan pendidikan karakter diberikan di sekolah-sekolah. Mengingat pendidikan karakter merupakan pintu keberhasilan bagi anak di masa depan bahkan masa depan bangsa, Nelson Mandela menuliskan “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.”

Amsal 22:6 mengatakan: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya ia tidak akan menyimpang dari jalan itu.” Sekolah MDC sangat peduli dengan pendidikan karakter anak. Oleh karena itu Sekolah MDC membentuk generasi yang berkarakter bahkan sejak di usia yang sangat belia. Tujuannya supaya ketika mereka dewasa, mereka tidak menyimpang dari kebenaran Firman Tuhan.

Mendidik dengan patut berarti mendidik mereka sesuai dengan standar kebenaran yaitu, Firman Tuhan. Mendidik yang patut berarti mendidik dengan berpusat pada siswa (student-centered learning); sesuai dengan karakteristik anak, mempertimbangkan usianya, kebutuhannya, perkembangan mental dan moralnya, serta kecerdasan, talenta, dan gaya belajarnya. Mendidik secara patut berarti membelajarkan anak dengan menggunakan Bahasa Kasih, memandang setiap anak unik dan memiliki kemampuan yang berbeda satu dengan yang lain.

Amsal 1:7 mengatakan: “Takut akan TUHANadalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmatdan didikan”. Sekolah MDC sangat memercayai bahwa takut akan Tuhan adalah sumber kehidupan, sehingga penting sekali mengintegrasikan Firman Tuhan dalam setiap pembelajaran. Untuk itu Sekolah MDC menerapkan Pendekatan Pembelajaran MEREKAH. Melalui pendekatan pembelajaran MEREKAH diharapkan siswa bisa mengalami pembelajaran yang lebih bermakna.

Apa itu MEREKAH? MEREKAH merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan antara hard-skills (kompetensi akademik), soft-skills (karakter), dan spiritual-skills.

MEREKAH merupakan akronim dari MEmiliki, REfleksi, Komitmen, Action, dan Habit.

ME mengacu pada siswa memiliki kompetensi akademik sesuai dengan kurikulum berlaku yang berlandaskan Firman Allah.
RE merupakan akronim dari refleksi. Siswa belajar bagaimana mereka merefleksikan hasil dan pembelajaran dengan diri sendiri.
K merupakan singkatan dari komitmen. Dari hasil refleksi diri, siswa didorong untuk berkomitmen agar menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab.
A merupakan singkatan dari action ataubertindak, dari hasil komitmen dalam kehidupan sehari-hari.
H merupakan singkatan dari habit, pembiasaan. Peranan orangtua sangat penting dalam membangun kebiasaan baik anak-anak di rumah atau di lingkungan sosial di mana mereka berada.
Pendekatan pembelajaran tersebut jelas membutuhkan peran orangtua, sebagai pendamping anak di rumah. Kami beharap pendekatan pembelajaran yang mengintergrasikan Firman Tuhan mendapat support dari orangtua demi masa depan lebih baik bagi anak-anak kita terkasih.

(Penulis: Lany Gunawan, S.T.; Kepala SD Kristen Masa Depan Cerah)