Melatih Kecerdasan Interpersonal Anak

Kecerdasan interpersonal merupakan salah satu dari kecerdasan majemuk seperti yang diungkapkan oleh Howard Gardner (1993). Secara sederhana, kecerdasan interpersonal dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi dan perasaan orang lain. Seorang anak yang memiliki kecerdasan ini akan tampak dari interaksi sosialnya yang bagus karena ia mampu untuk mengerti sikap dan pandangan orang lain serta memberikan respon yang efektif dalam berkomunikasi.

            Meskipun setiap anak memiliki bobot yang berbeda dalam kecerdasan interpersonalnya, semenjak dini hal tersebut harus dikembangkan. Jika kecerdasan interpersonal seorang anak tidak dikembangkan sedini mungkin, besar kemungkinan anak tersebut mengalami benturan dengan lingkungan di sekelilingnya saat dewasa nanti. Predikat sebagai orang yang “tidak tahu diri, tidak tahu aturan, tidak bertanggungjawab, tidak punya sopan santun,  anti sosial dan lain sebagainya” sangat mungkin disematkan kepadanya. Menimbang pentingnya kecerdasan interpersonal anak untuk ditumbuhkembangkan, berikut beberapa latihan sederhana yang bisa dipraktekkan  oleh orangtua:

  1. Mengajari anak untuk melakukan aktivitas sosial seperti memberi sedekah kepada pengemis, meminjamkan mainan pada teman, memberikan bantuan kepada anak yatim piatu, dan lain sebagainya.
  2. Melatih tanggung jawab anak. Seorang anak yang tergabung dalam sebuah kelompok teman, secara tidak langsung akan melibatkan dirinya untuk bertanggungjawab menjaga hubungan dengan kelompok tersebut. Ketika anak  berada di rumah, orangtua dapat melatihnya dengan memberikan tugas ringan yang dapat dilakukan seperti menyiram bunga saat sore hari, memberi makan hewan peliharaan, dan lain sebagainya.
  3. Membiasakan anak mengungkapkan perasaannya. Orangtua perlu bertanya dan mendengarkan ungkapan perasaan anak. Secara tidak langsung hal itu akan melatih keterampilan anak dalam berkomunikasi dan berekspresi dengan baik.
  4. Mendengarkan pendapat. Orangtua yang sabar saat berbeda pendapat dengan anak akan menjadi cermin bagi anak yang bersangkutan guna  menjadi pendengar yang baik. Hal itu akan menolongnya untuk belajar menghargai orang lain.
  5. Mengajarkan arti penting penerimaan. Anak perlu diajari oleh orangtua untuk tidak memilih-milih teman, misalnya teman yang kaya, cantik, pintar, dan sebagainya. Dengan demikian, anak mampu membina hubungan baik dengan siapapun tanpa melabelinya dengan status sosial, keadaan fisik atau kemampuan seseorang.
  6. Menumbuhkan pengertian anak. Orangtua yang mampu memahami keadaan anak akan menolong anak untuk menumbuhkan sikap pengertiannya. Misalnya, ketika anak gagal menjadi pemenang dalam sebuah perlombaan, orangtua dapat menunjukkan empatinya dengan berkata, “Ayah tahu kamu sedih karena tidak memenangi lomba. Jangan bersedih, terus berusaha dan suatu saat kamu pasti menjadi pemenang.”
  7. Menumbuhkan sikap kerjasama dalam menyelesaikan konflik. Ada saatnya antara orangtua dan anak terjadi silang pendapat atau konflik. Sikap selalu mengalah dan memaksakan kehendak sama-sama tidak baik untuk diambil saat konflik terjadi. Sebaliknya, perlu bagi orangtua dan anak duduk bersama kemudian membicarakan pokok permasalahan dan mencari jalan keluarnya.

Berbagai upaya intens yang dilakukan orangtua untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal anaknya sejak dini akan membuat anak tersebut berhasil dalam menjalin hubungan sosial, yang merupakan faktor penting bagi kesuksesan hidup setiap orang.

 (dari berbagai sumber)

Penulis:
Joseph Heryawan, S.Th., M.M.
Wakil Kepala Sekolah

SD Kristen Masa Depan Cerah