,

Seminar Pendidikan Seks Bagi Siswa-Siswi SMA Kristen Masa Depan Cerah

Pada hari Selasa, 8 Desember 2015 di SMA Kristen Masa Depan Cerah mengadakan Seminar Pendidikan Seks bagi kalangan remaja. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk respon aktif dari Program Bimbingan dan Konseling akan adanya himbauan dari Kepala Diknas Kota Surabaya tentang Darurat Kekerasan Seksual di kalangan remaja yang pernah disampaikan pada pertemuan para Guru BK SMP dan SMA tentang Konselor Sebaya. PIC Kegiatan adalah : Ibu Ditya Intan Kusuma, Ibu Teressa Andi Lusia dan Bapak Angga Riyon Nugroho.

 

Seminar Pendidikan Seks kali ini, mengundang beberapa narasumber diantaranya :

  1. Ayly Soekanto, M.Kes, dosen dari Universitas Hang Tuah : Pendidikan Seks di kalangan remaja
  2. Frikson C. Sinambela, M.T., Psikolog dari Universitas Surabaya : Love, sex, dating (Putra)
  3. Ibu Juwita Kristiani, S.Th, dosen Teologi/PAK dari Universitas Ciputra : Love, sex, dating (Putri)

Selama ini, jika kita berbicara mengenai seks, maka yang terbersit dalam benak sebagian besar orang adalah hubungan seks. Padahal, seks itu artinya jenis kelamin yang membedakan pria dan wanita secara biologis.
Berikut rangkuman pemaparan materi yang disampaikan oleh narasumber :

Pendidikan seks menyangkut beberapa hal antara lain dimensi biologis, yaitu berkaitan dengan organ reproduksi, cara merawat kebersihan dan kesehatan; dimensi psikologis, seksualitas berkaitan dengan identitas peran jenis, perasaan terhadap seksualitas dan bagaimana menjalankan fungsinya sebagai makhluk seksual; dimensi sosial, berkaitan dengan bagaimana seksualitas muncul dalam relasi antar manusia serta bagaimana lingkungan berpengaruh dalam pembentukan pandangan mengenai seksualitas dan pilihan perilaku seks; dan dimensi kultural, menunjukkan bahwa perilaku seks itu merupakan bagian dari budaya yang ada di masyarakat

Tantangan yang sedang dihadapi para remaja

Saat ini, kita banyak dibanjiri oleh berbagai informasi yang bisa dengan mudahnya didapat. Baik melalui media cetak, media elektronik ataupun yang terbaru melalui dunia maya atau internet. Informasi-informasi tersebut dapat berupa hal yang positif maupun negatif. Salah satu informasi negatif yang banyak menjadi perhatian adalah informasi mengenai konten-konten dewasa, yang dapat diakses oleh semua orang dengan mudah terutama melalui internet.

Dikhawatirkan dengan banyaknya arus informasi tanpa batasan tersebut dapat merubah persepsi remaja mengenai seks dan seksualitas. Keluarga dan sekolah merupakan tempat yang tepat bagi remaja untuk mendapatkan informasi yang benar mengenai pendidikan seks, karena biasanya remaja mengambil contoh dari perilaku orang tua dan orang dewasa lain di sekitarnya.

Memang sampai saat ini banyak orang yang masih merasa tabu untuk membicarakan masalah seks tersebut dengan sesama orang dewasa apalagi dengan anak-anak. Tetapi yang harus disadari adalah, biasanya remaja akan mencari panutan dari orang tua, jadi apabila orang tua hanya diam saja tanpa memberikan informasi yang tepat mengenai seksualitas, maka remaja dapat memperoleh informasi yang salah dan menjerumuskan mereka dalam bahaya.

 

Pendidikan seks di kalangan remaja

Banyak orang tua dan orang dewasa lain, masih merasa tabu untuk membicarakan masalah seks dan seksualitas dengan anak-anaknya. Sebagian lebih memilih untuk tetap diam dan berasumsi bahwa anak-anak mereka akan memperoleh informasi yang mereka butuhkan lewat sekolah ataupun media. Sebagian lagi ada yang mempercayai bahwa membicarakan masalah seks dengan anak-anaknya akan sama saja dengan mendorong mereka untuk mencoba melakukan hubungan seks. Yang seharusnya para remaja tersebut harus diberitahu mengenai faktor tanggung jawab terhadap tubuh mereka serta masalah kesehatan yang mungkin terjadi.

Topik mengenai masalah seks sebenarnya mulai dapat dibicarakan sejak dini apabila dilakukan secara terbuka, akan tetapi tidak ada kata terlambat apabila itu belum dilakukan. Buku dapat dijadikan alat penolong untuk membicarakan masalah tersebut, apabila orang tua masih merasa canggung untuk membicarakan masalah seks. Pendidikan seks untuk remaja sebaiknya juga mengangkat masalah mengenai gambaran biologi mengenai seks dan organ reproduksi, masalah hubungan, seksualitas, cara melindungi diri serta ancaman penyakit menular seksual.

 

Kenapa pendidikan seks penting untuk remaja?

Para remaja dapat memperoleh informasi mengenai seks dan seksualitas dari berbagai sumber, termasuk dari teman sebaya, lewat media massa baik cetak ataupun eletronik termasuk di dalamnya iklan, buku ataupun situs di internet yang khusus menyediakan informasi tentang seks dan seksualitas. Sebagian informasi tersebut dapat dipercaya, sebagian lainnya mungkin tidak. Jadi pemberian pendidikan seks pada remaja sebenarnya adalah mencari tahu terlebih dahulu apa yang telah mereka ketahui mengenai seks dan seksualitas, menambahkan hal yang kurang serta membenarkan informasi yang ternyata tidak sesuai. Informasi yang salah tersebut seperti misalnya informasi bahwa berhubungan seksual merupakan salah satu pembuktian kasih sayang dan apabila berhubungan seksual cuma sekali saja tidak akan menyebabkan kehamilan atau bahwa penyakit AIDS sudah ada obat penyembuhnya. Tanpa adanya informasi yang tepat, maka akan dapat menjerumuskan kehidupan remaja.

Pendidikan seks sendiri merupakan suatu proses untuk memperoleh informasi dan membentuk sikap serta keyakinan mengenai seks, identitas seksual serta hubungan. Pendidikan seks juga dapat membantu remaja untuk memiliki kemampuan sehingga mereka dapat bertindak sesuai apa yang mereka yakini dengan percaya diri. Hal ini berarti juga dapat membantu mereka untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan seksual, ekploitasi seksual, terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan serta penularan penyakit seksual serta HIV dan AIDS.

“Dalam menyampaikan materi pendidikan seks, beberapa siswa maupun siswi masih merasa malu-malu ketika narasumber memperlihatkan beberapa organ biologis pria dan wanita. Akan tetapi narasumber memiliki kemampuan untuk bisa mesosialisasikan dengan baik sehingga para siswa bisa dengan nyaman menyerap informasi yang disampaikan,” tutur Bapak Caesar Riza Rahardian (guru Bahasa Indonesia). Menurut Ibu Teressa Andi Lusia (guru Fisika),”Materi pendidikan seks ini diberikan sangat tepat bagi kalangan remaja yang sedang GALAU atau masih dalam tahap peralihan dari anak-anak menuju usia remaja yang dalam masa psikologisnya cenderung mulai menyukai lawan jenis. Sehingga mereka dapat mengetahui secara tepat untuk bergaul dengan benar di usia mereka dan tidak terjerumus dalam pergaulan bebas”.

Pada pelaksanaannya, seminar ini juga dibagi atas kelompok pria dan wanita sehingga narasumber bisa dengan bebas dan terbuka dengan peserta seminar dalam menyampaikan materinya. Menurut Bapak Frans Jonathan (guru PAK),“Menarik, karena materi ini sangat mendalam mengupas permasalahan remaja khususnya kekerasan seksual yang terjadi di dalamnya (dating violence) sehingga mereka dapat memahami dan menghindari permasalahan seks di kalangan remaja dan tidak terjerumus di dalamnya”.

Seperti yang telah disebutkan di atas, para remaja tersebut dapat memperoleh informasi mengenai seks dari berbagai sumber, baik yang dapat dipercaya ataupun yang tidak dipercaya, yang bersifat baik atau bersifat menjerumuskan. Sehingga dengan pemberian informasi mengenai pendidikan seks yang tepat dari orang tua kepada remaja mengenai apa yang terjadi dan apa yang mungkin terjadi dapat membantu remaja untuk lebih berpikir jernih mengenai pilihan hidup mereka.

Pendidikan seks di sekolah juga dapat memberikan peran penting dalam hal peningkatan pengetahuan, tingkah laku dan sikap yang sesuai bagi para remaja. Selain itu peran serta masyarakat secara luas juga diperlukan supaya tercipta iklim pemberian informasi terutama mengenai pendidikan seks yang tepat dan sesuai untuk remaja.

Berita oleh : Mr. Tri Setyanto, S.Pd (Guru BK)

Foto oleh : Mr. Angga Riyon Nugroho (Guru Sejarah)